~

Sunday, June 7, 2015

MASALAH-MASALAH SOSIAL DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA TERHADAP MASYARAKAT DI INDONESIA



PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Sejak manusia mulai hidup bermasyarakat, maka sejak saat itu sebuah gejala yang disebut masalah sosial berkutat didalamnya. Sebagaimana diketahui, dalam realitas sosial memang tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang ideal. Dalam pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh prilaku kehidupan sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan komponen sistem sosial mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan yang terjadi. Dengan kata lain das sein selalu tidak sesuai das sollen.
Pada jalur yang searah, sejak tumbuhnya ilmu pengetahuan sosial yang mempunyai obyek studi kehidupan masyarakat, maka sejak itu pula studi masalah sosial mulai dilakukan. Dari masa ke masa para sosiolog mengumpulkan dan mengkomparasikan hasil studi melalui beragam perspektif dan fokus perhatian yang berbeda-beda, hingga pada akhirnya semakin memperlebar jalan untuk memperoleh pandangan yang komprehensif serta wawasan yang luas dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial. Buku ini hadir dengan fokus studi masalah sosial yang sekaligus memuat referensi dan rekomendasi bagi tindakan untuk melakukan penanganan masalah. Di negara-negara berkembang, tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan dalam rangka penanganan masalah sosial menjadi perhatian yang sangat serius demi kelangsungan serta kemajuan bangsanya menuju cita-cita kemakmuran dan kesejahteraan. Terkait hal itu, pembahasan mengenai berbagai perspektif sosial, identifikasi melalui serangkaian unit analisis serta pemecahan masalah yang berbasis negara dan masyarakat menjadi tema-tema yang diulas secara teoritis dalam makalah ini.
Masalah sosial menemui pengertiaannya sebagai sebuah kondisi yang tidak diharapkan dan dianggap dapat merugikan kehidupan sosial serta bertentangan dengan standar sosial yang telah disepakati. Keberadaan masalah sosial ditengah kehidupan masyarakat dapat diketahui secara cermat melalui beberapa proses dan tahapan analitis, yang salah satunya berupa tahapan diagnosis. Dalam mendiagnosis masalah sosial diperlukan sebuah pendekatan sebagai perangkat untuk membaca aspek masalah secara konseptual. Eitzen membedakan adanya dua pendekatan yaitu person blame approach dan system blame approach (hlm. 153). Person blame approach merupakan suatu pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu.
Person blame approach merupakan suatu pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu. Diagnosis masalah menempatkan individu sebagai unit analisanya. Sumber masalah sosial dilihat dari faktor-faktor yang melekat pada individu yang menyandang masalah. Melalui diagnosis tersebut lantas bisa ditemukan faktor penyebabnya yang mungkin berasal dari kondisi fisik, psikis maupun proses sosialisasinya. Sedang pendekatan kedua system blame approach merupakan unit analisis untuk memahami sumber masalah pada level sistem. Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa sistem dan struktur sosial lebih dominan dalam kehidupan bermasyarakat. Individu sebagai warga masyarakat tunduk dan dikontrol oleh sistem. Selaras dengan itu, masalah sosial terjadi oleh karena sistem yang berlaku didalamnya kurang mampu dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk penyesuaian antar komponen dan unsur dalam sistem itu sendiri. Dari kedua pendekatan tersebut dapat diketahui, bahwa sumber masalah dapat ditelusuri dari ”kesalahan" individu dan "kesalahan" sistem.
Mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut akan sangat berguna dalam rangka melacak akar masalah untuk kemudian dicarikan pemecahannya. Untuk mendiagnosis masalah pengangguran misalnya, secara lebih komprehensif tidak cukup dilihat dari faktor yang melekat pada diri penganggur saja seperti kurang inovatif atau malas mencari peluang, akan tetapi juga perlu dilihat sumbernya masalahnya dari level sistem baik sistem pendidikan, sistem produksi dan sistem perokonomian atau bahkan sistem sosial politik pada tingkat yang lebih luas. Masyarakat Dan Negara Parillo menyatakan, kenyataan paling mendasar dalam kehidupan sosial adalah bahwa masyarakat terbentuk dalam suatu bangunan struktur. Melalui bangunan struktural tertentu maka dimungkinkan beberapa individu mempunyai kekuasaan, kesempatan dan peluang yang lebih baik dari individu yang lain (hlm. 191).
Dari hal tersebut dapat dimengerti apabila kalangan tertentu dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kondisi sosial yang ada sekaligus memungkinkan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan, sementara dipihak lain masih banyak yang kekurangan.Masalah sosial sebagai kondisi yang dapat menghambat perwujudan kesejahteraan sosial pada gilirannya selalu mendorong adanya tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dalam konteks tersebut, upaya pemecahan sosial dapat dibedakan antara upaya pemecahan berbasis negara dan berbasis masyarakat. Negara merupakan pihak yang sepatutnya responsif terhadap keberadaan masalah sosial. Perwujudan kesejahteraan setiap warganya merupakan tanggung jawab sekaligus peran vital bagi keberlangsungan negara.
Upaya pemecahan sosial sebagai muara penanganan sosial juga dapat berupa suatu tindakan bersama oleh masyarakat untuk mewujudkan suatu perubahan yang sesuai yang diharapkan. Dalam teorinya Kotler mengatakan, bahwa manusia dapat memperbaiki kondisi kehidupan sosialnya dengan jalan mengorganisir tindakan kolektif. Tindakan kolektif dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih sejahtera. Kebermaknaan suatu studi termasuk studi masalah sosial disamping ditentukan oleh wawasan teoritik dalam menjelaskan gejala dan alur penalaran dari berbagai proposisi yang dihasilkan, juga sangat ditentukan oleh bagaimana studi itu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Setidaknya seperti itulah muatan optimisme yang di kehendaki penulis makalah ini.

1.2.Rumusan Masalah
1.      Apa definisi masalah sosial ?
2.      Apa macam-macam masalah sosial ?
3.      Faktor apa yang mempengaruhi masalah sosial ?
1.3.Tujuan
1.      Mengetahui definisi masalah sosial.
2.      Mengetahui macam-macam masalah sosial.
3.      Mengetahui faktor yang mempengaruhi masalah social.
1.4.Manfaat
1.      Dapat mengetahui definisi masalah sosial.
2.      Dapat mengetahui macam-macam masalah sosial.
3.      Dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi masalah social.




KESIMPULAN

 Kesimpulan
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.
Permasalahan sosial yang banyak terjadi di lingkungan sekitar adalah masalah pengangguran. Pengangguran sekarang terjadi dimana-mana. Hal ini disebabkan banyaknya para pencari kerja. Tetapi, sedikitnya lapangan kerja yang tersedia. Itu hanya salah satu sebab terjadinya pengangguran. Contoh sebab lain adalah Sumber Daya Manusia yang kurang berkualitas. Para generasi muda sekarang lebih suka bemalas-malasan dan bermain dari pada belajar demi menggapai masa depan. Sehingga di saat mereka dewasa karena tingkat pendidikan mereka sangat rendah sehingga mereka kesulitan mencari pekerjaan dan akan menjadi pengangguran Sehingga terjadi kemiskinan dan masalah social lainnya. Kita harus berusaha mencapai hasil yang terbaik dalam hidup kita sehingga kita akan menjadi manusia yang berkualitas dan dapat membantu mengurangi masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita.
Jadi permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, tindakan kriminal, pengangguran, dan lain-lain. Masih banyak faktor yang menyebabkan munculnya masalah sosial di masyarakat kita. Masalah ini tidak hanya terjadi di Negara kita saja tetapi masalah ini terjadi sama rata di seluruh pelosok dunia.


 





Saturday, April 25, 2015

PARAGRAF AGRUMENTATIF DAN PARAGRAF PERSUATIF

PARAGRAF ARGUMENTATIF

Pengertian paragraf argumentasi adalah sebuah paragraf yang mengemukakan alasan, contoh dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Dengan adanya sebuah paragraf argumentasi ini maka kita dapat meyakinkan dan memengaruhi pembaca dengan alasan-alasan yang logis dan kuat guna membuktikan kebenaran suatu pendapat yang didasarkan atas data dan fakta.
Argumentasi digunakan untuk memengaruhi dan mengubah pendapat orang lain agar menerimanya. Dalam penyusunan paragraf argumentasi semua hal yang dianggap penting dikelompokkan dan dijadikan satu dalam sebuah kesimpulan yang bisa diletakkan di awal, akhir, maupun di awal dan di akhir paragraf argumentasi tersebut.

Paragraf Argumentatif --> mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta

Contoh: 
Pecel lele lela yang terletak di Jalan Margonda Raya No. 379 Depok ini menjadi salah satu pilihan untuk hangout bagi kalangan-kalangan muda depok terutama mahasiswa.
Produk utama dari pecel lele lela pastinya adalah pecel lele, dengan tag line “sensasi makan lele hanya ada di lela”, yang membedakan pecel lele ini dengan yang lain adalah sambal citarasa indonesia dan variasi lele yg luar biasa.  Dengan berbagai macam jenis ukuran dan jenis lele, sahabat bisa memilih selera makanan yang diinginkan. dari makanan berat sampai desert. Pecel lele lela disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia dengan bahan berkualitas dan harga terjangkau.



PARAGRAF PERSUATIF

Paragraf persuasi adalah paragraf/karangan yang berisi ajakan. Paragraf persuasi bertujuan untuk membujuk pembaca agar mau melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh penulis. Agar pembaca menjadi terpengaruh, maka penulis harus melampirkan bukti dan data-data pendukung.
Dalam paragraf persuasi, terdapat kata ajakan seperti ayo atau mari. Propaganda yang dilakukan oleh berbagai lembaga, badan, maupun organisasi; iklan yang disampaikan dalam berbagai media untuk menarik perhatian konsumen dan mempromosikan suatu produk adalah contoh dari paragraf persuasi.

Paragraf Persuasi --> karangan yang bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis.

Contoh :

"Pilih sendiri variasi jenis lele citarasa Indonesia asli dan harga terjangkau"

Monday, March 23, 2015

Fakta sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah

A. Fakta Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah

       Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.
     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.
      Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian.
     Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

1). Klasifikasi
      Membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukkan atau menempatkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Suatu klasifikasi akan berhenti, tidak dapat diteruskan lagi jika sudah sampai kepada individu yang tidak dapat merupakan spesies atau dengan kata lain jenis individu tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan ke dalam suatu spesies. Contohnya, "Dani adalah manusia", tetapi tidak "Manusia adalah Dani" karena Dani adalah individu dan bersifat unik.
      Perlu diingat bahwa klasifikasi atau penggolongan (pengelompokkan) berbeda dengan pembagian. Pembagian lebih bersifat kuantitatif, tanpa suatu kriteria atau ciri penentu. Tetapi klasifikasi didasarkan terhadap ciri-ciri atau kriteria yang ada dari fakta-fakta yang diteliti.

2). Jenis Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
  • Klasifikasi sederhana, suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif. Klasifikasi seperti itu disebut juga klasifikasi dikotomis (dichotomous classification dichotomy).
  • Klasifikasi kompleks, suatu kelas mencakup lebih dari dua kelas bawahan. Dalam klasifikasi ini tidak boleh ada ciri negatif; artinya, suatu kelas tidak dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya suatu ciri.

3). Persyaratan Klasifikasi
Klasifikasi harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa persyaratan:
  • Prinsipnya harus jelas. Prinsip ini merupakan dasar atau patokan untuk membuat klasifikasi, berupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua fakta atau benda (gejala) yang diklasifikasikan.
  • Klasifikasi harus logic dan ajek (konsisten). Artinya, prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya.
  • Klasifikasi harus bersikap lengkap, menyeluruh. Artinya, dasar pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok tanpa kecuali.

Selain itu dalam aspek fakta agar dapat membuat kesimpulan yang sah tentang sifat golongan tertentu yang berdasarkan satu atau beberapa yang diamati, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai klasifikasi – yang sudah dijelaskan sebelumnya –, generalisasi dan spesifikasi, analogi, dan hubungan sebab-akibat.

1). Generalisasi dan Spesifikasi, Dari sejumlah fakta atau gejala yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu dibuktikan dengan fakta yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.

Ungkapan yang biasa digunakan dalam generalisasi adalah: biasanya, pada umumnya, sebagian besar, semua, setiap, tidak pernah, dan sebagainya. Dan ungkapan yang digunakan dalam penunjang generalisasi adalah: misalnya, sebagai contoh, untuk menjelaskan hal itu, sebagai bukti, dan sebagainya.

Fakta-fakta penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Suatu paragraf dalam tulisan yang mencamtumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis. Dan generalisasi mungkin mengemukakan fakta (disebut generalisasi faktual) atau pendapat (opini).

2). Analogi, persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain atau membandingkan sesuatu dengan lainnya berdasarkan atas persamaan yang terdapat di antara keduanya.

Analogi terdiri dari dua macam, pertama analogi penjelas (deklaratif) yaitu perbandingan untuk menjelaskan sesuatu yang baru berdasarkan persamaannya dengan sesuatu yang telah dikenal, tetapi hasilnya tidak memberikan kesimpulan atau pengetahuan yang baru, kedua analogi induktif yaitu suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan (referensi) tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan. Jadi, dalam analogi induktif yang perlu diperhatikan adalah persamaan yang dipakai merupakan ciri-ciri esensial penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.

3). Hubungan Sebab Akibat, hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.
  • Penalaran sebab-akibat dimulai dengan pengamatan terhadap suatu sebab yang diketahui.
  • Penalaran akibat-sebab dimulai dari suatu akibat yang diketahui.
  • Penalaran akibat-akibat berpangkal dari suatu akibat dan berdasarkan akibat tersebut dan langsung dipikirkan akibat lain tanpa memikirkan sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.

B. Salah Nalar

       Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran disebut sebagai salah nalar. Ada dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.

a). Kesalahan Informal
Kesalahan informal biasanya dikelompokkan sebagai kesalahan relevansi. Kesalahan ini terjadi apabila premis-premis tidak mempunyai hubungan logis dengan kesimpulan. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini adalah:
  • Argumentum ad Hominem, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada diri orang". Artinya, kesalahan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis.
  • Argumentum ad Baculum, kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.
  • Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis, kesalahan yang terjadi apabila seseorang menerima pendapat atau keputusan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatukan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.
  • Argumentum ad Populum, kesalahan itu berarti "argumentasi ditujukan kepada rakyat". Artinya, argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan; yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.
  • Argumentum ad Misericordiam, argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan.
  • Kesalahan Non-Causa Pro-Causa, kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap.
  • Kesalahan Aksidensi, kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok.
  • Petitio Principii, kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Kadang-kadang petitio principii ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D dan D disebabkan A.
  • Kesalahan Komposisi dan Divisi, kesalahan komposisi terjadi jika menerapkan predikat individu kepada kelompoknya sementara kesalahan divisi terjadi jika predikat yang benar bagi kelompok dikenakan kepada individu anggotanya.
  • Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks, pertanyaan yang dimaksud ini bukan dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, namun yang dapat menimbulkan banyak jawaban.
  • Non Secuitur (Kesalahan Konsekuen), kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional terjadi pertukaran anteseden dan konsekuen.
  • Ignoratio Elenchi, kesalahan ini sama atau sejenis dengan argumentum ad Hominemad Verucundiamad Baculum, dan ad Populum yaitu tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya.

b). Kesalahan Formal
              Kesalahan ini berhubungan erat dengan materi dan proses penarikan kesimpulan baik deduktif maupun induktif.

1). Kesalahan Induktif
Kesalahan induktif terjadi sehubungan dengan proses induktif. Kesalahan ini terjadi karena:
  • Generalisasi yang terlalu luas.
  • Hubungan sebab akibat yang tidak memadai.
  • Kesalahan analogi. Kesalahan ini terjadi bila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan ciri esensial kesimpulan yang ditarik.

2). Kesalahan Deduktif
  • Dalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi adalah kesalahan premis mayor yang tidak dibatasi.
  • Kesalahan term keempat. Dalam hal ini term tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari term mayor pada premis mayor atau memang tidak ada hubungan antara kedua pernyataan.
  • Kesimpulan terlalu luas atau kesimpulan lebih luas dari pada premisnya.
  • Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif.

Wednesday, December 24, 2014

JURNAL INTERNASIONAL



THE TRAINING OF INTERNATIONAL MANAGERS –
SUCCESS FACTOR IN INTERNATIONAL BUSINESS

Professor PhD Ion BOTESCU
University Ovidius of Constanta
Abstract:
The amplification of extern economic activities made by firms demands new
rules for those people that take part in transcultural actions. They have to
deal with new challenges regarding the interpretation of actions or attitudes
made by individuals or firms that have their activity in a cultural activity
different from what they were accustomed to until that moment. International
managers come in contact with people that not only have different objectives,
but they also have different ways of achieving their objectives.
The development of management activities is a laborious process that starts
with the recurring and selecting of personnel and ends with the training and
returning to their home country of the managers. The importance and the
phases of the process of training managers that can action with competence
in an intercultural context have represented the elements which I want to
bring forward in this paper.

Keywords: international context, international manager, cultural shock, cultural adaptability.

Introduction
Globalization is an objective phenomenon, which takes place in an accelerated rate, putting more and more its mark on the lives of most of the world’s population. The rapid progress of technology, especially in the information domain, the improvement of the transportation of goods and passengers, doubled by a promotion of a liberal policy by almost all the world’s states, have determined the global transformation of the global economy.
 If under a conceptual aspect globalization has been treated in time from different angles. In the present time, important are the debates regarding the takeoff of companies that work on a global level, regarding the negative aspects generated by the unification of markets, like the growth of unemployment and the damages to theenvironment, regarding the activity of international institutions etc.
Regarding multinational firms, we have to mention that these cannot only be found in developed countries, but in all of the world’s countries, representing a strong force of cohesion in the global economy, tying the national economies in the process of globalization. Actually, in the entire world there approximately
80.000 multinational firms and each has in average 10 affiliates abroad, forming this way a vast planetary net.
            On the other hand, the consequences of the globalization of the economical activity are on cultural values specific for different countries, some specialists sustain an accentuation of cultural differences between countries.
The growth of the grade of internationalization, especially in the activity of multinationals, demandssending abroad some people, that on one hand have to make proof of good technical competences, managerial, etc,and on the other must have abilities that can allow an efficient activity in a foreign cultural environment.
Numerically and valorically speaking, international businesses have achieved the most powerful growth in history, during the last two decades. Multinational firms can close business deals in any region of the globe. In order to be efficient international expansion implies sending people, capable of coping with technical requirements as well as particularities set by a new cultural environment, abroad.
The failure recorded by people sent to work abroad is incarnated by their return to the country of origin before the expiration of the preset deadline. This is not a cause of technical or professional incompetence, but of the fact that people are unable of adapting to the specific lifestyle of another culture. Multinational firms pay special attention to the casting and training of the personnel that will be sent abroad, because of the fact that a set-back in this field is pretty costly. Besides the loss of opportunities determined by the misfit of the personnel abroad, multinational firms spend, on average, for the training, shift and accommodation of an employee abroad, approximately $250.000. Statistics show that the rate of returning from abroad is of 40%, for managers who were not subjected to adaptability studies and who were not included in cultural orientation programs. The average dropped to 25% when firms introduced cultural orientation programs and, to only 10%, when, besides the cultural orientation programs, firms also endorsed the problems raised by adaptability. The failure rate of American managers implanted abroad, in comparison to that recorded by European countries and Japan, is higher than double.
 International firms take a series of actions for the amortization of the cultural shock: recruiting and selecting the personnel that will work abroad, preparing the international managers, motivating the personnel and preparing
the repatriation



Selecting the people that will have the position of manager abroad
According to Raymond J. Stone, in order for an international manager to achieve success, he must fulfill a series of requirements, the most important being: the ability to adapt, technical aptitudes, the family’s adaptability, social aptitudes, will and motivation, international experience, understanding the culture of the host country, academic studies, aptitudes for foreign languages and understanding the culture of the mother country.
Western companies often recruit workforce within universities, endorsing linguistically competent people with international experience, meaning people that will easily adapt to another culture.
 Geographically speaking, an international firm has three possible recruitment sources.
 The first source is the local one, the country where an international firm’s branch is registered and functions. Selecting local managers is the most appropriate condition if the dynamics of the exchanges on the host market grows. Local managers are well acquainted with the environment conditions of their own countries and thus, they can correctly interpret situations that may surface. Local managers are accustomed to the environmental conditions in their own country and thus, they can correctly interpret any situations that may surface. The international firm does no longer have to provide for a numerous managerial body, saving significant amounts of money from personnel expenses. By hiring local managers, the international firm has the opportunity  of discovering people with special abilities in this field, whom they wouldn’t meet in their own country, this way satisfying the interest of the host country in regard to the promotion of its citizens. In a cultural aspect, there is the risk that the global control and coordination may be affected, because of the fact that local managers have received their education and part of the professional training in a very different way from what was insured for them in the firm’s country of origin.
The advantage of internal recruitment is that all candidates are accustomed to the way of operating and to the culture of international firm. The option for managers originating from the country where the international firm has its quarters depends on: the nature of the activity field, the stage of the product’s life cycle, the availability of managers from other sources etc. currently, the number of such managers, working abroad, is much larger in the services field in comparison to the manufacturing sector.
 One of the main sources of the competitive advantage of large multinational companies is their possibility of recruiting personnel from all corners of the world. Using managers from another third country is a strategy of the firms that have orientated themselves towards a global philosophy. One such example is the Dutch concern, in the field of electronics, Philips, which promoted managers from a third country in its branches from abroad. These are career managers, who are usually transferred to manage new units opened in countries with similar cultural affinities.
 A manager working abroad has to tackle with a more complex number of problems than a manager deploying activity in his own country. The international manager leads the activity under the circumstances of a higher level of independence. In order to deploy his activity abroad, a manager must be superior to his local competitors. He must have solid experience and make proof of excellent previous performances.
During the selection process, special attention is given to the candidates’ cultural knowledge. It is essential that the manager, who is to work in a foreign country, knows the language. He can of course use translators, but that would mean that he doesn’t have total control over the activity he is coordinating. Most Japanese managers, working in branches that were established in the US, speak English, but few of the Americans representing national firms in Japan speak Japanese. Managers that are to work in a foreign country must know certain aspect concerning: the degree in which the local government is involved in business, the way of operating on the local market, the importance of holidays in the context of the local socio-economic life.
International managers must bring proof of a good adaptability to the cultural conditions of the host country. They must show a positive and flexible attitude toward changes crossing from the factual elements of the new culture to its interpretative elements, as they try to achieve a better integration in the local environment. Problems regarding the manager’s family must not be neglected. For example, an American firm hired American managers for an Italian branch. One of the managers’ wives had problems adapting to the new country. She managed to also induce this state to the other managers’ wives. After a while, the situation created, lead to the repatriation of the American managers before deadline.

The training of international managers
 In most cases, the training program for managers that are about to work abroad, takes months. It is important that we establish, from the beginning, the differences between what managers currently do and what they will do in the future.
            International managers are faced with hardships regarding not knowing an adequate foreign language and other cultural elements that will insure the efficiency of the decisional act. A study made by UNESCO in regard to 10-14 year old pupils from various countries, placed the US on the last spot, in what understanding foreign cultures is concerned, statement that was upheld by the fact that 61%of the schools that endorse training for international business, did not include disciplines that will approach intercultural elements of the economic life, in their curriculum. Although the selection operation was given all the necessary attention, 30-50% of the international managers did not rise up to expectations, mainly because they were unable to adapt to the new life and work conditions.
Specialists say that there must be two stages in the training program of the future international manager. The first stage takes place before the departure and the manager’s family is also concerned. The second stage takes place in the host country. Experience from practice shows a need for a third training stage with the purpose of facilitating the return to the country of origin.
The first aspect that the firm, in need of an international manager, need to consider is the selection process. In this phase you can eliminate most of the problems that should be solved afterwards and this is why the interviews that the candidate is subject to are carefully elaborated. Once a person is chosen, their missing attributes are determined in order to establish a complex and efficient training process. The study made by Rosalie Tung about several European, American and Japanese firms, shows that there are six categories of training problems:
1.      General information within seminars or workshops regarding the geographical area, climate, educational system, accommodation conditions, chain stores etc;
2.       Cultural orientation programs for the perception and correct evaluation of cultural   values and norms from the host country;     
3.      Cultural assimilation programs, which imply the simulation of certain situations in which the international manager might be while in contact with the new cultural environment;
4. Training courses for learning a certain foreign language;
5. Programs for the development of attitude flexibility;
6. Practical experience programs, realized by making journeys to the host country and making direct contact with the environment.

Based on her study, Tung realized that 69% of the researched European firms have such programs, followed by Asian firms with 57% and American firms with only 32%. This explains the large number of failures recorded by multinational American companies. The firms that were questioned paid special attention to learning the language spoken in the host country and getting to know the environment and the cultural orientation.
A person from the host country be assigned to run a foreign branch if the given situation demands it. The future manager will make contract with a new culture, that of the multinational company. Under these circumstances the training may take place within the branch or at the quarters of the mother society.
The achievements of the communication technology, the opportunities of the intercultural education provided by universities and the extension of computer networks lead to the growth of the multicultural training efficiency, reducing by 30% the time reserved for this process in comparison to the use of traditional methods.




The motivation of international managers

Beside the salary, the rewards, given to managers sent to work abroad, include accommodation requitals, facilities and work under harsh conditions. Expenses such as the
chauffeur’s salary, the maintenance of the service vehicle,the payment of a club membership fee etc, are also supported by the firm. Basically the firm must compensate the discomfort created by the departure. For this we take into consideration favorite foods,friendship and family relations, educational opportunities etc. Usually a manager that is about to deploy activity abroad, wishes to have a standard of life, that will remind him as much as possible of the one he had in his own country.
The costs generated by the salary payment for managers working abroad are twice as big as those for managers with similar attributions in the country of origin. A series of increments are paid in order to determine the manager to work abroad.
The increments cashed in by the international manager depend from 0 to 50% on the basic salary, the environments in which he will work and where his family will live. It is one thing to be a foreign manager in Paris and another to run a branch in Brazavire
The rewards given to international managers also depend on the performances they have recorded in achieving the established objectives. The fundamental factor in the evaluation of an international manager is the dimension of the achieved profit, although there are cases when the main objective is closing contracts or establishing personal relations with the decisional factors from the host country.


Preparing the repatriation

If it is not well administered, a manager’s return to the country of origin may raise a series of problems. There were cases, when, upon retuning, the manager realized that he is no longer alone in the office, that the firm’s employees do not know him and that he did not have prestige in his interpersonal relations. All this affect the efficiency of a manager’s activity.
 There are cases when a manager’s family has trouble readapting in the country of origin, after spending a long period abroad. Many American families were surprised, upon returning in the US, by the high standard of living and education costs in their country of origin. Approximately 20% of the managers who worked abroad leave the firm after repatriation. Loosing competent managers, with international experience, is not at all comfortable for a firm and this is why it must undertake all things necessary in order to cushion the shock caused by the return in the country.
Preparations for the repatriation of the international manager should begin six months ahead. There must be well grounded reasons for attributing new tasks for the manager. The firm must give financial compensations for his resettlement in the country of origin as well as a sufficient period of time to move and prepare to resume the activity. This way the work made by the international manager within the firm is recognized.
The problems raised by the cultural shock must be identified and analyzed immediately. This way, the measures that will lead to the attenuation of the traumas, generated by the change of the cultural
environment, can be established.
Conclusions

The managerial act is characterized by a special complexity. In the moment when we transpose the managerial act in the intercultural context, its problematic becomes even more complex, the complications amplify, having the tendency to evolve exponentially.
The significant costs necessary for the training of a manager that will deal with working abroad and especially the immense damages that he can do in the case in which he doesn’t adapt to the new cultural environment are arguments that determine multinational firms to give a special attention to the process of selecting and training future international managers.



REFERENCES


Popa I, Radu F (2003), Management internaţional, Ed. Economică: Bucureşti.

Popescu Nistor M (1999), Cultura afacerilor, Ed. Economică: Bucureşti.

Ronen S. (1988), „Training the International Assignee”, Training and Career Development, Ed. I. Goldstein.

Rosalie L Tung (1982), Selection and Trening Procedures of US, European and Japonese Multinationals, California Management Review, Fall.

Stèphane Olivesi (2005), Comunicarea managerială, Ed. Tritonic: Bucureşti.