~

Sunday, October 14, 2012

Suku Madura

MADURA


     Madura merupakan salah sebuah pulau Indonesia yang terletak di utara Pulau Jawa.Pulau Madura mempunyai keluasan lebih kurang 5,250 km² (lebih kecil daripada Pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta orang. Terdapat empat buah kabupaten di Pulau Madura, iaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya. Suku Madura merupakan indentitas dari suku madura itu sendiri. Madura selain terkenal dengan Kerapan Sapinya juga tak lepas dari adat istiadat kesukuannya yang masih melekat hingga sekarang. orang madura berbeda dengan suku lain pada umumnya. disini mereka lebih mengandalkan sifat kekeluargaan dan saling menghormati antar satu sama yang lain.


Sejarah 


     Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara, serta sebagian Malang. Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep terletak di timur laut Pulau Jawa dengan koordinat sekitar 7 derajat lintang selatan dan antara 112 derajat dan 114 derajat bujur timur. Panjang Pulau Madura kurang lebih 190 km, jarak terlebar 40 km, dan luas keseluruhan adalah 5.304 km2. Ketinggian paling rendah adalah daerah-daerah pantai dibagian utara tengah pulau berupa pegunungan-pegunungan kecil. Pulau ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang jumlahnya lebih dari 100, baik yang berpenghuni maupun tidak. Kebanyakan pulau-pulau ini berada di bagian timur. Kabupaten Bangkalan-sebagai lokasi penelitian-terletak diujung barat pulau. Pada saat ini, Madura secara administratif merupakan bagian dari Provinsi Jawa Timur.


Populasi


     Di samping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, Bekasi, dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia Suku Madura juga banyak dijumpai di provinsi lain seperti Kalimantan, di tempat huruhara di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura


AGAMA

     Mayoritas masyarakat suku Madura adalah penganut Islam. Masyarakat Madura sangat taat beragama. Selain ikatan kekerabatan, agama menjadi unsur penting sebagai penanda identitas etnik suku ini. Bagi orang Madura, agama Islam seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati dirinya. Akibatnya, jika ada warga Madura yang memeluk agama lain selain Islam, identitas kemaduraannya bisa hilang sama sekali. Lingkungan sosialnya ‘akan menolak’, dan orang yang bersangkutan bisa terasing dari akar Maduranya


Senjata Tradisional 


     Arok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).
      Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.


Baju adat 

     Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura, yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam, di dalamnya, lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Sebenarnya, pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan, baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Dalam penggunaannya, baju pesa`an, celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Kalangan pedagang kecil, seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih, dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa


 Makanan Tradisional 

     Sate Madura adalah sate khas Madura. Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau garam, juga terkenal dengan satenya. Sate madura sudah terkenal di seluruh Nusantara, Sate Madura dapat ditemukan hampir di semua daerah khususnya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Konon di Madura sendiri sate susah dicari. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat akut.


Bahasa 

     Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan Suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur kurang lebih 15 juta orang, dan terpusat di Pulau Madura, Ujung Timur Pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, Kepulauan Kangean, Kepulauan Masalembo, hingga Pulau Kalimantan Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Bahasa Madura banyak terpengaruh oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa sangat terasa dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda.


Masyarakat Madura 



     Berbicara tentang orang Madura sering kali kita langsung terbayang sosok orang yang terstigmakan dengan hal-hal yang berbau kekerasan, angkuh, egois, mau menang sendiri, cepat tersinggung, penuh curiga, dan suka berkelahi (carok). Bahkan dianggap bersinonim dengan senjata tajam. Tak heran, satu dari tiga etnis terbesar (Jawa, Madura dan Sunda) di Indonesia ini sangat unik untuk kemudian kita amati dan pahami bersama. Selain itu, suku di suatu pulau di Jawa ini memang cukup populer bahkan telah “menguasai” tidak hanya di Indonesia tetapi juga hampir di seluruh penjuru dunia berkat dunia pelancongannya. Menilai manusia Madura memang butuh banyak perspektif untuk menghasilkan sebuah pemahaman yang benar akan siapa sejatinya manusia Madura. Sejauh ini telah banyak penelitian-penelitian yang menjadikan orang Madura sebagai obyeknya. Akan tetapi ditambahkan juga bahwa sekalipun memiliki jiwa wirausaha, mereka jarang mau mengambil risiko tinggi, sehingga sedikit pengusaha Madura yang terdengar jatuh pailit namun kecil pula kemungkinan bagi mereka untuk tumbuh besar sampai menjadi konglomerat. Rata-rata orang Madura lalu dianggap tidak berjiwa pioner yang mau maju di garis terdepan yang belum dirambah orang, sebab mereka sangat percaya pada kemapanan tatanan yang tertib dan teratur rapi.


Budaya 

     Karapan Sapi merupakan acara yang sangat populer dan diadakan 2 kali sebulan selama bulan September hingga Oktober. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, Madura. Karapan Sapi merupakan acara kebanggaan masyarakat Madura, terutama untuk kejuaraan tahunan yang biasanya diadakan oleh masyarakat lokal setelah musim panen di bulan September atau Oktober. Babak final diselenggarakan di Pamekasan,Madura, sekali setahun.




Pertanian

Hal yang mulai tampak istimewa ketika mendekat ke pohon tembakau Campalok. Daunnya agak hijau kekuning-kuningan, dan aromanya sangat menyengat. Jika daun tembakau dipegang, terasa lengket di tangan. “Perawatan tembakau Campalok sama seperti tembakau lainnya. Ketika baru ditanam, harus disiram setiap hari. Setelah itu, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Selain aroma yang menyengat, keunggulan lain tembakau Campalok pada bobotnya yang relati lebih berat. Itu berakibat pada harga tembakau Campalok yang bisa 20 kali lipat dari tembakau lainnya. Jika tembakau gunung biasa harganya di kisaran tertinggi Rp 35 ribu per kg, tembakau Campalok bisa mencapai Rp 750 ribu per kg. Untuk menjaga aroma, biasanya setelah kering, tembakau Campalok dibungkus dengan plastik. Berbeda halnya dengan tembakau biasa yang dibungkus dengan tikar


Referensi : http://maduracenter.wordpress.com, http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Madura, http://galisbangkalan.blogspot.com/2011/06/tengtang-clurit-madura.html

No comments:

Post a Comment